Magetan (INewsOne) – Halaqoh Kebangsaan bertajuk “Silaturahim Kebangsaan dalam Rangka Mendukung Pemberantasan Korupsi” digelar pada Ahad, 23 November 2025, di Pondok Pesantren Al-Fattah Temboro Magetan, bertempat di Auditorium Masjid Indoor Temboro. Acara ini mempertemukan dua dzuriyah ulama besar, yakni Kiyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari dan Kiyai Ageng Basyariyah Sewulan, serta dihadiri para kiai, akademisi, dan santri.
KH Ubaidillah Ahror: Usaha dengan Allah Tidak Pernah Merugi
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fattah Temboro, KH Ubaidillah Ahror, menyampaikan bahwa selama di dunia ini masih ada orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, maka insyaallah kiamat akan ditunda oleh Allah.
“Orang yang berbuat baik sekali saja dalam urusan akhirat, maka Allah SWT akan membalas sepuluh kali lipat kebaikan,” ujarnya.
Beliau berharap kebaikan yang lahir dari majelis silaturahim ini dapat memancar ke seluruh Indonesia bahkan ke penjuru dunia. KH Ubaidillah juga menyinggung rahasia 9 Arofah yang diyakini membawa ampunan pada bulan-bulan lainnya.
“Pesantren ini mewariskan perjuangan para nabi SAW. Usaha dengan Allah SWT tidak akan mengalami kerugian, selalu membawa keuntungan. Semoga Allah menjadikan Indonesia sebagai pelopor kejayaan Islam dan kemerdekaan Palestina,” tegasnya.
Dosen Universitas Brawijaya: Integritas Pemimpin Adalah Pilar Negara
Salah satu pemateri, Hermawan dari Universitas Brawijaya, menekankan bahwa kepemimpinan berintegritas sangat penting untuk menjaga pilar negara. Ia juga menyoroti pentingnya moderasi beragama (wasathiyah) sebagai pilar kebangsaan serta optimalisasi peran pesantren sebagai basis pendidikan moral bangsa.
Harapan Peserta: Rekomendasi untuk Presiden Prabowo
Salah satu peserta halaqoh, Gus Haris, berharap hasil diskusi ini dapat melahirkan rekomendasi konkret kepada Presiden Prabowo Subianto terkait Undang-Undang Perampasan Aset bagi pelaku korupsi, serta kebijakan yang dapat mencegah tindak korupsi di masa mendatang.
Gus Kikin: Kemajuan Teknologi Harus Diimbangi Iman
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Gus Kikin, menegaskan pentingnya silaturahim langsung atau bermujahah. Menurutnya, meski sekadar berkumpul, makan bersama, dan berbincang dalam satu majelis, hal tersebut memiliki dampak positif yang besar.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kekuatan iman. “Teknologi bisa menjadi pelopor kerusakan jika tidak digunakan secara bijak,” ujarnya.
Gus Kikin menekankan pentingnya pendidikan adab atau akhlakul karimah, terutama di pesantren sebagai ujung tombak pembentuk karakter bangsa. Ia menutup dengan ajakan untuk berpegang pada tiga prinsip utama: Iman, Islam, dan Ihsan.
—
Reporter: Zuem Athifurrahman
Editor: Tim Redaksi
